6.23.2011

Butir-butir Kebijakan (Email Ustazah Yoyoh Yusroh buat Anaknya)

by Mushtafa Umar Safuq on Sunday, June 5, 2011 at 3:14pm

< Copas dari FB Bro Faris (Ust.Ahmad Faris,penulis buku New Package of Happiness) >

Wahai puteraku …

Agar engkau menjadi seorang raja yang berwibawa di hadapan manusia ..

Janganlah berbicara dalam berbagai urusan ..

Kecuali setelah mengecek kebenaran sumbernya ..

Dan jika seseorang datang membawa berita, cari bukti kebenarannya sebelum dengan berani engkau berbicara ..

Hati-hati dengan isu .. jangan percayai setiap yang dikatakan, jangan pula percaya sesuatu yang setengah engkau lihat ..

Dan jika engkau mendapatkan cobaan berupa seorang musuh .. hadapi dengan berbuat baik kepadanya .. tolak dengan cara yang lebih baik, niscaya permusuhan itu berubah menjadi cinta kasih ..

Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”.

Jika engkau diserang banyak orang sementara engkau berada di atas kebenaran .. atau jika engkau diserang dengan kritikan-kritikan buruk .. bergembiralah .. sebab mereka sebenarnya sedang berkata: “engkau orang yang sukses dan berpengaruh”, sebab,

• anjing yang mati tidak akan ditendang,

• dan tidak dilempar kecuali pohon yang berbuah

Wahai puteraku ..

Jika engkau hendak mengkritik, biasakan untuk melihat dengan mata tawon lebah .. dan jangan memandang orang lain dengan mata lalat, sebab engkau akan terjatuh kepada perkara yang busuk!

Tidurlah lebih awal wahai puteraku agar bisa bangun lebih awal .. sebab keberkahan ada di pagi hari, dan saya khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan rizki Allah yang Maha Penyayang disebabkan engkau begadang di malam hari, sehingga tidak bisa bangun pagi!

Akan aku ceritakan kepadamu kisah seekor kambing dan serigala, supaya engkau aman dari orang yang berbuat makar ..

Dan saat seseorang memberikan tsiqah-nya kepadamu, jangan sampai engkau mengkhianatinya!

Akan aku ajak engkau ke sarang singa .. akan aku ajarkan bahwa singa itu tidak menjadi raja hutan dikarenakan aumannya!!

Akan tetapi, karena ia berjiwa tinggi! Tidak mau memakan hasil buruan binatang lain, betapapun ia lapar .. dan perutnya melilit-lilit .. jangan mencuri jerih payah orang lain .. sebab engkau menjadi keji!

Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”.

Wahai puteraku ..

Biasakan engkau bersyukur .. kepada Allah! Cukuplah menjadi alasan untuk bersyukur kepada-Nya bahwa engkau dapat berjalan, mendengar dan melihat!

Bersyukurlah kepada Allah, dan syukuri pula manusia .. sebab Allah SWT akan menambah orang-orang yang bersyukur

Dan manusia senang saat mendapati seseorang yang diberi sesuatu lalu orang itu menghargainya!

Wahai puteraku .. ketahuilah bahwa sifat utama yang paling agung dalam kehidupan ini adalah sifat jujur!

Dan bahwasanya kebohongan, meskipun tampak memberi keselamatan .. namun jujur lebih berakhlaq bagimu! Dan bagi orang sepertimu!

Wahai puteraku …

Persiapkan alternatif untuk segala urusan .. agar engkau tidak membuka jalan kehinaan!

Manfaatkan segala peluang .. sebab peluang yang datang sekarang .. bisa jadi tidak akan berulang!!

Jangan berkeluh kesah .. aku harap engkau optimis .. siap menghadapi kehidupan ..

Jauhilah orang-orang yang putus asa dan pesimis, lari dari mereka! Dan jangan sampai engkau duduk dengan seseorang yang selalu memandang sial kepada segala hal!!

Jangan bergembira saat melihat orang lain terkena musibah .. jangan pula menghina orang karena postur atau penampilannya ..

Sebab dia tidak menciptakan dirinya .. dan saat engkau menghina orang lain, pada hakekatnya engkau menghina ciptaan dari Dzat yang Maha Mencipta dan Membuat bentuk rupa

Jangan membuka aib orang, sebab Allah akan membuka aibmu di rumahmu .. sebab Allah-lah Dzat yang menutupi .. dan mencintai orang yang menutupi!

Jangan menzhalimi siapa pun .. dan jika engkau hendak menzhalimi dan engkau merasa mampu menzhalimi, ingatlah bahwa Allah SWT lebih mampu!

Jika engkau merasa hatimu mengeras, usaplah kepala anak yatim .. engkau akan terheran-heran .. bagaimana usapan itu dapat menghilangkan rasa keras hati dari hatimu, seakan hatimu menjadi pecah dan melunak!

Jangan mendebat .. dalam perdebatan .. kedua pihak merugi.

Kalau kita yang kalah, kita merugi telah kehilangan kebesaran kita, dan jika menang, kita juga merugi, telah kehilangan orang lain yang menjadi lawan debat kita .. semua kita kalah .. baik yang merasa menang .. dan yang merasa belum menang!

Jangan monopoli pendapat .. yang bagus adalah engkau mempengaruhi dan dipengaruhi!

Hanya saja, jangan larut dalam pendapat banyak orang .. dan jika engkau merasa bahwa pendapatmu benar .. tegarlah dan jangan terpengaruh!

Wahai puteraku ..

Engkau dapat merubah keyakinan orang .. dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi .. namun, dengan senyumanmu .. dan kosa katamu yang lembut .. dengan keduanya, engkau dapat menyihir!!

Oleh karena itu, tersenyumlah .. maha suci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!!

Di Cina .. jika engkau tidak murah senyum, mereka tidak akan berikan lisensi kepadamu untuk membuka kedai ..

Jika engkau tidak menemukan orang yang tersenyum kepadamu, tersenyumlah engkau kepadanya!

Jika bibirmu terbuka karena senyuman .. dengan cepat .. terbuka pula hati untuk mengekspresikan isinya ..

Jika orang meragukanmu, bela dirimu .. jelaskan .. dan beri keterangan pembenarannya!

Jangan suka nimbrung dan mengenduskan hidungmu dalam segala urusan .. jangan pula ikut-ikutan, berposisi bersama banyak orang saat mereka bersikap!!

Wahai puteraku .. jauhkan dirimu dari hal ini .. aku sangat tidak suka kalau melihatmu seperti ini!!

Jangan bersedih wahai puteraku terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan! Sebab kita tidak diciptakan kecuali untuk diuji dan diberi cobaan .. sehingga Allah melihat kita .. adakah kita bersabar?

Karena itu .. santai saja .. jangan keruh hati! Yakinlah bahwa jalan keluar dekat ..

“jika mendung semakin hitam, pertanda, sebentar lagi hujan”!!

Jangan meratapi masa lalu, cukuplah bahwa ia telah berlalu .. sia-sia kalau kita memegang gergaji kayu, lalu menggergaji!!

Tataplah hari esok .. persiapkan diri .. dan singsingkan lengan baju untuk menghadapinya!!

Jadilah orang yang mulia .. berbanggalah dengan dirimu!

Sebagaimana engkau melihat dirimu, begitulah orang lain akan melihatmu ..

Jangan sekali-kali meremehkan dirimu!! Sebab engkau menjadi besar saat engkau ingin besar .. hanya engkau saja yang memutuskan ia menjadi kecil!

*Ini adalah email Ustazah Yoyoh Yusroh (Allah yarhamuha), buat anaknya Aizza Jundana, tanggal 18 Mei 2011, atau hanya tiga hari sebelum beliau wafat. Email yang diberi judul "Nasihat untuk sang putera" ini mengutip Nasihat Seorang Arab, Nayifah Uwaimir, kepada anaknya.

Sejarah Singkat BULOG: 43 Tahun Perjalanan BULOG

Dalam sejarah bangsa, kehadiran lembaga pangan tidak dapat di pungkiri keberadaannya. Sejak jaman kerajaan Majapahit dan Mataram telah dikenal adanya lumbung-lumbung pangan yang berfungsi sebgai penyedia pangan pada saat langka.

Secara formal pemerintah mulai ikut menganani pangan pada jaman belanda, ketika berdiri voedings middelen fonds (VMF) bertugas membeli, mejual, dan menyediakan bahan makanan dalam masa jepang, VMF dibekukan dan lembaga muncul lembaga baru bernama Nanyo Kohatsu Kaisha.

Pada masa peralihan sesudah Kemerdekaan Republik Indonesia, Voedings Middelen Fonds (VMF) dibubarkan dan dibentuk Yayasan Bahan Makanan (BAMA).

Dalam perkembangan selanjutnya terjadi perubahan kebijakan yang di tempuh oleh pemerintah, dan BAMA dirubah menjadi Yayasan Urusan Makanan (YUBM) sedangkan pelaksanaan pembeli padi dilakukan oleh Yayasan Badan Pembeli Padi (YBPP) yang dibentuk daerah-daerah dan diketuai oleh Gubernur.

Berdasarkan Peraturan Presiden No.3 tahun 1964 dibentuk Dewan Bahan Makanan (DBM) sejalan dengan itu dibentuklah Badan Pelaksana Urusan Pangan (BPUP) peleburan dari YUMB dan YBPP-YBPP.

Memasuki era Orde Baru, penanganan pengendalian operasional bahan pokok kebutuhan hidup dilaksanakan oleh Komando Logistik Nasional (KOLOGNAS) yang dibentuk berdasarkan keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 87 TAHUN 1966. Namun peranannya tidak berjalan lama karena pada tanggal 10 mei 1967 dibubarkan dan dibentuk Badan Usaha Logistik (BULOG) berdasarkan Keputusan Presiduim Kabinet Nomor 114/Kep/1967.

Kemudian dengan keputusan Presiden RI Nomor 39/1987 tanggal 5 November 1987 BULOG mempunyai tugas pokok melaksanakan pengendalian harga beras gabah, gandum, dan bahan pokok lainnya guna menjaga kestabilan harga, baik bagi produsen maupun konsumen sesuai dengan kebijakan umum pemerintah.

Memasuki era Reformasi beberapa lembaga pemerintah mengalami revitalisasi dan reformasi termasuk BULOG melalui keputusan presiden RI Nomor 45 tahun 1997 tugas pokok BULOG hanya di batasi untuk komoditi beras dan gula pasir selanjutnya dengan keputusan presiden RI nomor 19 tahun 1998 tugas dan peran BULOG semakin terbatas hanya mengelola komoditi beras saja.

Mengawali Millenium III, sesuai keputusan presiden Nomor 29 tahun 2000 tanggal 26 Februari 2000, BULOG diharapkan lebih berperan dan mandiri dalam usahanya, dengan fungsi utama yang difokuskan pada manajemen logistic, diharapakan BULOG lebih berhasil dalam mengelola persediaan distribusi pengendalian harga beserta usaha saja logistic.

Pada awalnya tahun 2003, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2003 Lembaga BULOG yang semula Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) berubah menjadi Perusahaan Umum (Perum). Dalam status sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), BULOG diharapkan menjadi andalan ketahanan pangan dan tetap menyelenggarakan tugas pelayanan public sesuai kebijakan pangan nasional, disamping kegiatan usaha yang dilaksanakannya. Melalui penugasan ini BULOG menyelenggarakan kegiatan ekonomi dibidang pangan secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat kepada perekonomian nasional.

4.14.2011

christian vs Islam (in the perspective of movie)

Akhir-akhir terasa aneh, banyak sekali film-film yang menayangkan dan secara tidak langsung mengajarkan bagaimana menjadi seseorang yang beragama, yaitu dengan cara mentoleransi sesama umat yang beragama. Tetapi yang terlihat adalah bagaimana memasuki dan mencampuri urusan agama satu dengan agama yang lainnya. Apalagi yang terlihat adalah bagaimana mencintai sekaligus menikahi umat beragama yang satu dengan umat beragama yang lain. Memang sebagai penulis tidak bisa atau pun masyarakat tidak bisa menjudge itu salah ataupun benar, karena kita tidak bisa mencampuri urusan pribadi seseorang apalagi menjadikan diri kita sebagai tuhan.

Salah satu contoh film yang menggambarkan "the religion in the perspective of movie" adalah 3 hati 2 cinta 1 dunia. Diawal cerita film ini, dia menggambarkan seseorang pasangan yang berbeda agama saling mencintai dan berpacaran. Mereka pun saling berbagi kebahagian, tetapi orang tua mereka tidak menyetujui hubungan mereka. Tetapi seiring usaha kedua pasangan ini yang berusaha keras untuk meyakinkan orang tua mereka, akhirnya orang tua mereka pun membebaskan kedua pasangan ini untuk memilih dan memutuskan kehidupannya masing-masing dengan mengatasnamakan kebahagian seorang anak. Walapun begitu, diakhir cerita film ini, tidak menggambarkan secara pasti bagaimana akhir cinta seorang pasangan yang berbeda agama ini dalam beradu akting (hanya dijelaskan dalam kata-kata).

Film yang kedua adalah film Cin(T)a. Ada satu huruf yang menarik dijudul film ini yaitu T yang dikurungkan, penulis tidak tahu secara pasti arti dari T yang dikurungkan ini, apakah T ini mengartikan Tuhan ataukah karena pemeran sang laki-lakinya yang bernama Cina. Tetapi yang film yang kedua ini tidak berbeda jauh dengan film yang pertama yang sudah dijelaskan oleh penulis yaitu "the religion in the perspective of movie". Walaupun berbeda diawal dengan film yang pertama, film yang pertama kedua pasangan yang berbeda agama ini sudah berpacaran, tetapi tidak untuk film yang kedua. Film yang kedua ini, diawal cerita pasangan yang berbeda agama ini tidak berpacaran, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka saling menerima perbedaan satu sama lain dan akhirnya mereka pun berpacaran dengan terus menjalankan ibadah sesuai ajarannya masing-masing. Tetapi diakhir cerita film pertama dan kedua tidak jauh berbeda, yaitu pasangan ini berpisah.

Melihat suatu fenomena perfilman Indonesia kali ini, sungguh menarik perhatian penulis. Karena penulis juga pernah membaca buku karangan Samuel P. Huntington (seorang penulis barat yang tersohor dan amat berpengaruh di dunia barat) yang menulis buku berjudulkan "Clash of Civilization and The Remaking of World Order". Buku itu berceritakan tentang pergesekan suatu peradaban yang mempermasalahkan keagamaan. Dengan adanya fenomena perfilman Indonesia ini apakah ada hubungannya dengan buku tersebut? ataukah fenomena-fenomena ini terjadi karena para intel demokrasi yang menginkan Indonesia memasuki demokrasi dengan seutuh-utuhnya? let's thinking about it. are they good for us or not?

3.01.2011

puisi-puisi

puisi ini diambil dari film 3 hati 2 dunia 1 cinta,sepertinya ini puisi hasil karya W.S. Rendra
seandainya gw bisa ngebacain puisi ini ke nyokap gw,,kyk yg diperanin oleh bitang utama dalam film ini....

Untuk Mama Ku Tercinta

Mama yang ercinta
Akhirnya ku temukan juga jodoh ku
Seseorang bagai kau
Sederhana dalam tingkah dan bicara
Serta sangat menyayangi ku

Mama

Burung dara jantan nakal
Yang sejak dulu kau pelihara
Kini terbang dan menemukan jodohnya

Mama

Aku telah menemukan jodohku
Jangan lah kau cemburu
Hendaklah hati mu yang baik
Tuk mengerti
Pada waktunya
Aku musti kau lepas
Pergi


**********************************

nah yang ini buat pacarnya gan...

Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak kan mengerti
Segala luka ku
Karna cinta t'lah sembunyikan pisaunya

Bayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan
Kau t'lah menjadi racun dari darah ku

Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku tanpa
Api

11.25.2010

Kisah Uwais al-Qorni, Jika Dia Bersumpah 'Demi Allah' Pasti Terkabul

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis.

pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”.

Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :

“Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.


Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.

Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.

Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi.

Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata :

“Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.

Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.

Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah.

Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.

Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda :

“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda :

“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama.

Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais.

Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan :

“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”

Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:

“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.

Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata :

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi."

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang.

Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air.

Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.

“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,”

Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata:

“Apa yang terjadi ?”

“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami.

“Dekatkanlah diri kalian pada Allah !” katanya.

“Kami telah melakukannya.”

“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!”

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,

”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”.

“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ?” Tanya kami.

“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya,

”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”

“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.

“Ya,” jawab kami.

Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai.

Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya.

(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.) Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya :

“Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal."

Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.


Sumber :


Read more: http://tahukah-engkau.blogspot.com/2010/04/kisah-uwais-al-qorni-jika-dia-bersumpah.html#ixzz16JVL3022

10.08.2010

I want to be together, forever

when this bud grows
like a body taking root

Each breath taken is a word

Imaginings, sounds, emotions mingle together
Weaving one robe around us

Our hands join
Our lips form in unison
Every word we say is the command of the high priestess

the rest is sand
the rest is dust
only the sand blows then swirls and disappears

But we still dance
A dance that only we know

Our souls are like a palanquin
So just take a seat
And we will take all

Because
we are one

temen2 yang ngk ngerti tenang,,ada versi indonesianya:

ketika tunas ini tumbuh
serupa tubuh yang mengakar

setiap nafas yang terhembus adalah kata

Angan, debur, dan emosi
bersatu dalam jubah bertautan

tangan kita terikat
lidah kita menyatu
maka setiap kata yang terucap adalah sabda pendita ratu

diluar itu pasir
diluar itu debu
hanya angin meniup saja lalu terbang dan hilang entah kemana

tapi kita tetep menari
menari cuma kita
diluar itu tandu
maka duduk saja
maka kita akan bawa, semua

karena
kita adalah satu

aku membaca, aku menulis, dan aku pintar

membaca, satu kata ini yang mengingatkan pada wahyu pertama bagi umat muslim. pada saat itu Malaikat Jibril datang kepada Muhammad, dia memberikan wahyu yg pertama. Pernahkah kawan2 berfikir, kenapa harus wahyu pertama itu Iqra yang berarti membaca?? Membayangkan hal satu ini saja membuat bulu kuduk ku berdiri,kawan.

Membaca, membaca dan membaca

terus terang saja kawan, sampai sekarang jikalau saya harus menjawab pertanyaan itu, sampai sekarang saya belum bisa menjawabnya. membaca tidak perlu harus membayar layaknya kawan pipis disalah satu WC umum, betapa murahnya ya kawan. membaca tidak membutuhkan persyaratan bagi orang yg membacanya, layaknya menjadi PNS, sangat mudahkan kawan. membaca akan memperkaya pengetahuan kawan-kawan, Nabi Muhammad pernah berkata " jika kamu mengingnkan dunia maka bacalah, jika kamu menginginkan akhirat maka bacalah, jika kamu menginginkan keduanya maka bacalah". Salah seorang Sahabat ku pernah berkata, dia melanjutkan kuliahnya di Universitas Indonesia untuk mengambil jurusan sastra arab, dia pernah berkata kepada ku "bacalah dan jangan pernah memilih-milih apa yang kamu baca entah itu hitam or putih, karena pada dasarnya tidak ada satupun ilmu hitam or putih, karena ilmu itu berasal dari Sang Maha Pencipta, hanya saja manusianya itu yang salah mempergunakannya , baca saja apa yang kamu ingin baca, dan jangan berhenti". dan dia melanjutkan "dengan membaca kita akan mendapatkan pertanyaan yang menarik untuk kita, lalu dengan membaca lagi kita mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, dari jawaban kita akan mendapatkan pertannyaan dan dari pertannyaan kita akan mendapatkan jawaban, dan begitulah seterusnya" oleh karena itu jangan pernah berhenti tuk membaca.

Membaca, membaca dan membaca

saya tak perlu memberi contoh yang mengada-ada. kawan-kawan sudah banyak melihat, mendengar dan membaca berita-berita tentang seseorang yang bersekolah tanpa biaya, satu hal yang dia lakukan, membaca kawan. dan masih banyak lagi kisah-kisah yang menakjubkan, hanya karena membaca.

So, let's read, friend!

***
tahu kah kawan, dosen-dosen ataupun guru-guru yang kawan banggakan itu, dahulunya adalah seorang pembaca yang setia. tapi ada satu ungkapan menarik, seorang yang pintar itu tidak bisa dianggap pintar tanpa menghasilkan karya, yaitu tulisan. tulisan yang dimaksudkan disini bukanlah tulisan biasa sepertihalnya catatan tugas kawan-kawan dan lainnya.

kita flash back lagi yuk, ketika kawan-kawan baru masuk Sekolah Dasar, hal yang pertama diajarkan dua hal: membaca dan menulis. walaupun yang menurut kita saat ini, saat itu kita menulis hal yang sepele, yaitu ABCDE sampai urutan terakhir Z. tapi kita bangga saat itu bahwa kita bisa menulis.

Tanpa tulisan tidak mungkin ada bacaan, tanpa bacaan mungkin hari esok tak ada kawan.

aku membaca, aku menulis dan aku pintar