4.14.2011

christian vs Islam (in the perspective of movie)

Akhir-akhir terasa aneh, banyak sekali film-film yang menayangkan dan secara tidak langsung mengajarkan bagaimana menjadi seseorang yang beragama, yaitu dengan cara mentoleransi sesama umat yang beragama. Tetapi yang terlihat adalah bagaimana memasuki dan mencampuri urusan agama satu dengan agama yang lainnya. Apalagi yang terlihat adalah bagaimana mencintai sekaligus menikahi umat beragama yang satu dengan umat beragama yang lain. Memang sebagai penulis tidak bisa atau pun masyarakat tidak bisa menjudge itu salah ataupun benar, karena kita tidak bisa mencampuri urusan pribadi seseorang apalagi menjadikan diri kita sebagai tuhan.

Salah satu contoh film yang menggambarkan "the religion in the perspective of movie" adalah 3 hati 2 cinta 1 dunia. Diawal cerita film ini, dia menggambarkan seseorang pasangan yang berbeda agama saling mencintai dan berpacaran. Mereka pun saling berbagi kebahagian, tetapi orang tua mereka tidak menyetujui hubungan mereka. Tetapi seiring usaha kedua pasangan ini yang berusaha keras untuk meyakinkan orang tua mereka, akhirnya orang tua mereka pun membebaskan kedua pasangan ini untuk memilih dan memutuskan kehidupannya masing-masing dengan mengatasnamakan kebahagian seorang anak. Walapun begitu, diakhir cerita film ini, tidak menggambarkan secara pasti bagaimana akhir cinta seorang pasangan yang berbeda agama ini dalam beradu akting (hanya dijelaskan dalam kata-kata).

Film yang kedua adalah film Cin(T)a. Ada satu huruf yang menarik dijudul film ini yaitu T yang dikurungkan, penulis tidak tahu secara pasti arti dari T yang dikurungkan ini, apakah T ini mengartikan Tuhan ataukah karena pemeran sang laki-lakinya yang bernama Cina. Tetapi yang film yang kedua ini tidak berbeda jauh dengan film yang pertama yang sudah dijelaskan oleh penulis yaitu "the religion in the perspective of movie". Walaupun berbeda diawal dengan film yang pertama, film yang pertama kedua pasangan yang berbeda agama ini sudah berpacaran, tetapi tidak untuk film yang kedua. Film yang kedua ini, diawal cerita pasangan yang berbeda agama ini tidak berpacaran, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka saling menerima perbedaan satu sama lain dan akhirnya mereka pun berpacaran dengan terus menjalankan ibadah sesuai ajarannya masing-masing. Tetapi diakhir cerita film pertama dan kedua tidak jauh berbeda, yaitu pasangan ini berpisah.

Melihat suatu fenomena perfilman Indonesia kali ini, sungguh menarik perhatian penulis. Karena penulis juga pernah membaca buku karangan Samuel P. Huntington (seorang penulis barat yang tersohor dan amat berpengaruh di dunia barat) yang menulis buku berjudulkan "Clash of Civilization and The Remaking of World Order". Buku itu berceritakan tentang pergesekan suatu peradaban yang mempermasalahkan keagamaan. Dengan adanya fenomena perfilman Indonesia ini apakah ada hubungannya dengan buku tersebut? ataukah fenomena-fenomena ini terjadi karena para intel demokrasi yang menginkan Indonesia memasuki demokrasi dengan seutuh-utuhnya? let's thinking about it. are they good for us or not?

3.01.2011

puisi-puisi

puisi ini diambil dari film 3 hati 2 dunia 1 cinta,sepertinya ini puisi hasil karya W.S. Rendra
seandainya gw bisa ngebacain puisi ini ke nyokap gw,,kyk yg diperanin oleh bitang utama dalam film ini....

Untuk Mama Ku Tercinta

Mama yang ercinta
Akhirnya ku temukan juga jodoh ku
Seseorang bagai kau
Sederhana dalam tingkah dan bicara
Serta sangat menyayangi ku

Mama

Burung dara jantan nakal
Yang sejak dulu kau pelihara
Kini terbang dan menemukan jodohnya

Mama

Aku telah menemukan jodohku
Jangan lah kau cemburu
Hendaklah hati mu yang baik
Tuk mengerti
Pada waktunya
Aku musti kau lepas
Pergi


**********************************

nah yang ini buat pacarnya gan...

Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau tak kan mengerti
Segala luka ku
Karna cinta t'lah sembunyikan pisaunya

Bayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan
Kau t'lah menjadi racun dari darah ku

Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku tanpa
Api

11.25.2010

Kisah Uwais al-Qorni, Jika Dia Bersumpah 'Demi Allah' Pasti Terkabul

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis.

pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”.

Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya. Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :

“Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.


Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.

Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.

Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi.

Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata :

“Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.

Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.

Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah.

Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.

Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda :

“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda :

“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama.

Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais.

Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan :

“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”

Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:

“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.

Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata :

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi."

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang.

Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air.

Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.

“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,”

Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata:

“Apa yang terjadi ?”

“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami.

“Dekatkanlah diri kalian pada Allah !” katanya.

“Kami telah melakukannya.”

“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!”

Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,

”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”.

“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ?” Tanya kami.

“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya,

”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”

“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.

“Ya,” jawab kami.

Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai.

Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya.

(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.) Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya :

“Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal."

Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.


Sumber :


Read more: http://tahukah-engkau.blogspot.com/2010/04/kisah-uwais-al-qorni-jika-dia-bersumpah.html#ixzz16JVL3022

10.08.2010

I want to be together, forever

when this bud grows
like a body taking root

Each breath taken is a word

Imaginings, sounds, emotions mingle together
Weaving one robe around us

Our hands join
Our lips form in unison
Every word we say is the command of the high priestess

the rest is sand
the rest is dust
only the sand blows then swirls and disappears

But we still dance
A dance that only we know

Our souls are like a palanquin
So just take a seat
And we will take all

Because
we are one

temen2 yang ngk ngerti tenang,,ada versi indonesianya:

ketika tunas ini tumbuh
serupa tubuh yang mengakar

setiap nafas yang terhembus adalah kata

Angan, debur, dan emosi
bersatu dalam jubah bertautan

tangan kita terikat
lidah kita menyatu
maka setiap kata yang terucap adalah sabda pendita ratu

diluar itu pasir
diluar itu debu
hanya angin meniup saja lalu terbang dan hilang entah kemana

tapi kita tetep menari
menari cuma kita
diluar itu tandu
maka duduk saja
maka kita akan bawa, semua

karena
kita adalah satu

aku membaca, aku menulis, dan aku pintar

membaca, satu kata ini yang mengingatkan pada wahyu pertama bagi umat muslim. pada saat itu Malaikat Jibril datang kepada Muhammad, dia memberikan wahyu yg pertama. Pernahkah kawan2 berfikir, kenapa harus wahyu pertama itu Iqra yang berarti membaca?? Membayangkan hal satu ini saja membuat bulu kuduk ku berdiri,kawan.

Membaca, membaca dan membaca

terus terang saja kawan, sampai sekarang jikalau saya harus menjawab pertanyaan itu, sampai sekarang saya belum bisa menjawabnya. membaca tidak perlu harus membayar layaknya kawan pipis disalah satu WC umum, betapa murahnya ya kawan. membaca tidak membutuhkan persyaratan bagi orang yg membacanya, layaknya menjadi PNS, sangat mudahkan kawan. membaca akan memperkaya pengetahuan kawan-kawan, Nabi Muhammad pernah berkata " jika kamu mengingnkan dunia maka bacalah, jika kamu menginginkan akhirat maka bacalah, jika kamu menginginkan keduanya maka bacalah". Salah seorang Sahabat ku pernah berkata, dia melanjutkan kuliahnya di Universitas Indonesia untuk mengambil jurusan sastra arab, dia pernah berkata kepada ku "bacalah dan jangan pernah memilih-milih apa yang kamu baca entah itu hitam or putih, karena pada dasarnya tidak ada satupun ilmu hitam or putih, karena ilmu itu berasal dari Sang Maha Pencipta, hanya saja manusianya itu yang salah mempergunakannya , baca saja apa yang kamu ingin baca, dan jangan berhenti". dan dia melanjutkan "dengan membaca kita akan mendapatkan pertanyaan yang menarik untuk kita, lalu dengan membaca lagi kita mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, dari jawaban kita akan mendapatkan pertannyaan dan dari pertannyaan kita akan mendapatkan jawaban, dan begitulah seterusnya" oleh karena itu jangan pernah berhenti tuk membaca.

Membaca, membaca dan membaca

saya tak perlu memberi contoh yang mengada-ada. kawan-kawan sudah banyak melihat, mendengar dan membaca berita-berita tentang seseorang yang bersekolah tanpa biaya, satu hal yang dia lakukan, membaca kawan. dan masih banyak lagi kisah-kisah yang menakjubkan, hanya karena membaca.

So, let's read, friend!

***
tahu kah kawan, dosen-dosen ataupun guru-guru yang kawan banggakan itu, dahulunya adalah seorang pembaca yang setia. tapi ada satu ungkapan menarik, seorang yang pintar itu tidak bisa dianggap pintar tanpa menghasilkan karya, yaitu tulisan. tulisan yang dimaksudkan disini bukanlah tulisan biasa sepertihalnya catatan tugas kawan-kawan dan lainnya.

kita flash back lagi yuk, ketika kawan-kawan baru masuk Sekolah Dasar, hal yang pertama diajarkan dua hal: membaca dan menulis. walaupun yang menurut kita saat ini, saat itu kita menulis hal yang sepele, yaitu ABCDE sampai urutan terakhir Z. tapi kita bangga saat itu bahwa kita bisa menulis.

Tanpa tulisan tidak mungkin ada bacaan, tanpa bacaan mungkin hari esok tak ada kawan.

aku membaca, aku menulis dan aku pintar

9.26.2010

SHEILA "kenangan yang hilang"

setelah membaca buku pertama hasil karya Torey Hayden (seorang wanita yg bernama lengkap Victoria Lynn Hayden yg meraih gelar Bachelor of Arts dibidang kimia fisika - namun lebih tertarik bekerja menangani anak2 yg memiliki kebutuhan khusus), buku pertama yang berjudul Luka Hati Seorang Gadis Kecil. buku pertama ini lah yg telah menguras air mata dari beribu-ribu pasang mata pembacanya. buku ini bercerita tentang seorang gadis kecil yg mempunyai kemampuan diatas batas normal IQ anak2 yg seumuran dengannya, gadis kecil yg mempunyai paras yg cantik tp bernasib tidak secantik parasnya. dia harus ditinggal oleh ibunya disaat umurnya sangat lah kecil, dipukul oleh ayahnya, dan itu masih blm seberapa kawan. percayalah dibuku ini diceritakan penderitaan yg harus dialami oleh gadis kecil ini lebih kejam dr apa yg disebutkan tadi. Tapi satu hal yang membuat kagum, gadis kecil ini tidak pernah menangis, Sheila pernah berkata "menangis hanya membuat ku menjadi terlihat lemah", sungguh perkataan yg sungguh amat bermakna dan jarang sekali anak kecil bisa berkata2 seperti itu, kata2 itu bermakna bahwa tak ada satu pun orang yg bisa membuat ku menjadi terlihat lemah, aku memang anak kecil tapi aku tidak lah lemah. dan yang lebih membuat kagum lagi, buku yang ditulis oleh Torey Hayden ini bukanlah novel biasa,,tp KISAH NYATA yg dijadikan novel.


YUK kita kembali ke Judul Awal kita, Sheila 'kenangan yang hilang'. pada awalnya saya sangat merasa kecewa, karena pada di bab-bab awal buku yang kedua ini tidak lah sebagus yg disajikan pada buku yang pertama, itu hanya menurut saya saja loh. tapi saya jadi teringat perkataan Amin Rais (mantan ketua MPR Negeri Indonesia) "nikmatnya membaca buku adalah saat kita menyelesaikan seluruh bacaannya".
ternyata benar juga perkataan beliau, setelah membaca seluruh buku yang kedua ini ternyata sama2 menarik. seperti ngk sah aja, baca buku yang pertama tapi ngk baca buku keduanya. ada beberapa surat menarik dalam buku ini:

ibu tersayang,
Aku ingin tinggal bersamamu. Aku sudah muak tinggal bersama ayah. Bukan karena telah terjadi sesuatu yang buruk, karena telah lama sekali tidak terjadi sesuatu yang buruk, tetapi aku sudah bosan sekali dengan tingkahnya. Aku bosan khawatir akan dirinya, khawatir dia mabuk, khawatir soal barang itu, khawatir dengan apa yang akan menimpa keuangan kami, khawatir dia akan mendapat kesulitan lagi, dan khawatir tentang apa yang akan terjadi padaku, jika itu terjadi. Aku ingin bersamamu dan Jimmie. Please, bisakah itu terjadi meski hanya sebentar?
***
Ibu tersayang,
Aku banyak menimbulkan kesulitan waktu itu. Mungkin itulah sebabnya Ibu terpaksa melakukan apa yang harus dilakukan. Kupikir aku bisa memahaminya, sebab mungkin itulah satu-satunya yang bisa kaulakukan. Tapi aku sudah jauh lebih baik sekarang. Inilah pion-poin baikku:
1) Aku bisa memasak.
2) Aku bisa mengerjakan tugas rumah tangga dengan baik sekali.
3) Aku akan mendapatkan pekerjaan setelah keluar dari sini dan punya penghasilan sendiri.
4) Aku hampir selalu mendapat nilai A di sekolah dan aku akan masuk Daftar Anak Berprestasi (yah, sebenarnya aku masuk dalam Daftar Anak Berprestasi di sekolahku yang lama. Di sini tidak ada sistem pringkat, tapi aku pasti akan masuk kelompok itu, jika aku masuk ke sekolah lain)
5) Aku akan melakukan apa yang kauinginkan sekarang, sebab aku sudah cukup besar untuk tahu apa yang kuinginkan.

Sedih memang, ditinggalkan oleh Ibu dalam usianya sangat kecil, setelah remaja tidak ingat lagi bentuk dan rupa Ibu tersebut, tidak ada foto ataupun dokumen2 yang jelas mengenai Ibu. semua cara telah dilakukan untuk bertemu Beliau tapi hasilnya tetaplah sama NIHIL. setelah cari dan terus mencari sampai titik puncak keputus asa'an, Sheila berkata "yang paling banyak kupikirkan adalah ucapanmu tentang mengikhlaskan semuanya. Menerima, memaafkan, dan kemudian mengikhlaskannya. Kupikir aku bisa menerima. Kupikir aku bahkan bisa memaafkan, tapi aku masih berpikir berkali-kali untuk mengikhlaskannya. Mencoba untuk memahami apa artinya 'ikhlas' dan yang bisa terpikir olehku hanyalah bahwa itu berarti menjalani hidupku ke depan. Mulai lebih memikirkan masa depan daripada masa lalu"

dari kedua buku itu banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bermakna. mungkin salah satunya adalah hidup itu tidak lah mudah seperti apa yang kau bayangkan kawan, hidup bukan lah seperti film FTV yang akan berbahagia diakhir cerita. Tapi yakin lah bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian yang tidak bisa diselesaikan kepada hamba-Nya. Yakin lah kawan bahwa Ujian-Nya itu akan membuat kita menjadi makhluk baru yang lebih kuat. Yakin kan pada hati kita bahwa KITA PASTI BISA.

tapi ngk enak juga loh klo hidup bahagia terussss sampe mati, malah jadi hambar aja tuh hidup atau menderita terusss sampe mati (kasihan bgt sih tuh org).

penulis blogger ini hanya bisa bilang kepada pembaca, sayangilah orangtua mu kawan selagi mereka masih ada. ^_^

seaindainya penulis diizinkan memberikan sedikit puisi untuk kawan2 yg senasib dengan sheila,

Sedih dan Aku

Hitamnya langit
tak se-hitam masa depan ku
Gelapnya malam
tak se-gelap hati ku

Sedih
yang kuratapi
yang ku sendiri tak tahu dimana ujungnya

Aku tidak butuh matahari saat malam
yang ku butuhkan lentera disaat gelap
Aku tidak peduli dengan emas di padang pasir
yang ku peduli hanya kamu IBU

5.02.2010

Nasehat Imam Ghazali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya....pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab "orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya".
Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.... "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang".
Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga.... "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".
Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179).
Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab "besi dan gajah".
Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72).
Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.
Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?"...
Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan".
Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat, gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.

Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"...
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA" Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.